"Pernah jadi cemilan sidang kabinet. Waktu itu Bupati yang bawa, jadi Bupati yang tahu. Saya cuma menyediakan barangnya," ujar H. Endut, perajin Galendo, saat ditemui Liputan 6di rumahnya, Ciamis, Jawa Barat (18/8).
Menurut Endut, dibawanya kudapan Galendo ke Istana itu menandakan rasa tidak mengenal status sosial. Bahkan dengan cita rasa itu akan mengeratkan tali persaudaran sesama bangsa.
Perlu diketahui, Galendo merupakan kudapan semacam dodol. Namun, Galendo terbuat dari ampas kelapa yang dimasak. "Kelapa diparut, terus diperas, lalu ambil santannya. Terus satan direbus selama kurang lebih empat jam sampai airnya hilang. Setelah airnya hilang dan menggumpal, lalu gumpalan itu diperas. Perasannya jadi Galendo dan minyak," terangnya.
Olahan kelapa ini, lanjut Endut, tidak hanya untuk Galendo. Ada yang bisa dijadikan cokelat aneka rasa, kue semprong, dan semacam serundeng. "Bisa jadi sambal, semacam serundeng. Lalu bisa dibuat cokelat dengan rasa coklat, pisang, susu. Dan minyak keletik (kelapa)," jelasnya.
Endut menjelaskan, usaha Galendo ini sudah ada sejak sekitar 1984, namun tidak dipasarkan. Sekitar tahun 1996-an, Galendo mulai dipasarkan ke pasar-pasar tradisional, dan hingga kini sampai ke supermarket.
Bagi anda yang sedang berkunjung ke Cirebon bisa membeli GALENDO di Pasar Sumber-Cirebon dan bisa bertanya penjualnya mba Neng, hanya satu-satunya yang berjualan Galendo di pasar Sumber sejak tahun 2006 sampai dengan sekarang


0 Response to "Galendo, Kudapan Rakyat yang Pernah ke Istana"
Posting Komentar